Kita harus melihat kebutuhan talenta karyawan dari pekerjaan yang akan dilakukan.
Karyawan yang memiliki talenta kelas dunia tidak akan berhasil bila tidak mendapat kejelasan penugasan dari atasan. Adalah tugas atasan untuk memastikan setiap karyawan bekerja sebaik mungkin -meskipun tidak memiliki talenta kelas dunia, melalui pemberian tugas dengan maksud/tujuan dan latar belakang sejelas mungkin dan juga jelas dari sisi kualitas, kuantitas, waktu dan sumber daya yang diharapkan.
Dan, bila karyawan tidak memiliki talenta kelas dunia tetapi pekerjaan membutuhkan talenta semacam itu, maka tugas atasanlah untuk memastikan talenta semacam itu dimiliki oleh karyawannya. Mengapa hal ini harus dilakukan oleh atasannya? Karena atasanlah yang memberikan tugas dan atasanlah yang tahu talenta dan skilled knowledge semacam apa yang akan dibutuhkan oleh karyawan untuk mengerjakan tugas dengan baik.
Karena itu, atasan bukannya memilih2 karyawan yang akan dikembangkan tetapi harus selalu memastikan bahwa setiap karyawan memiliki kemampuan dan kapabilitas yang sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan.
Tidak setiap orang memiliki kemampuan yang sama, tetapi setiap orang berhak untuk bekerja yang terbaik sesuai dengan kemampuannya.
Salam,
Wayan Dewantara
Organisasi Hakiki
--- On Sun, 9/21/08, yodhia.antariksa <yodhia.antariksa@yahoo.com> wrote:
> From: yodhia.antariksa <yodhia.antariksa@yahoo.com>
> Subject: [SDMList] Artikel : Diskriminasi Diperlukan dalam Pengelolaan Talent Management
> To: sdmlist@yahoogroups.com
> Date: Sunday, September 21, 2008, 1:43 PM
> Diskriminasi Diperlukan dalam Pengelolaan Talent Management
> sumber : http://strategimanajemen.net
>
> Perbincangan mengenai pengembangan mutu SDM kini tengah
> disemarakkan
> dengan gagasan mengenai talent management. Esensi dasar
> dari gagasan
> ini adalah bagiamana sebuah organisasi mesti mampu secara
> konstan
> merekrut, mengembangkan, dan kemudian mempertahankan
> barisan SDM yang
> bertalenta tinggi serta berkinerja unggul.
>
> Barisan SDM dengan talenta unggul yang menduduki strategic
> positions
> pada akhirnya memang merupakan life blood dari sebuah
> organisasi
> bisnis. Disini kita mungkin perlu menyimak sebuah ungkapan
> dari paman
> Bill Gates. Begini ia pernah berujar : silakan ambil 25
> eksekutif
> kunci dengan talenta unggul dari perusahaan kami, dan dalam
> waktu tak
> berapa lama Microsoft akan langsung roboh.
>
> Pertanyaanya kini adalah : lalu strategi terbaik apa yang
> mesti
> dilakoni untuk mampu mengembangkan talent management secara
> kokoh?
> Dalam kaitannya dengan hal ini, saya mencoba memetakan dua
> catatan
> filosofis yang layak digenggam manakala kita hendak merajut
> strategi
> talent management secara optimal.
>
> Catatan yang pertama adalah ini : serangkaian studi empirik
> menunjukkan bahwa kehebatan sebuah organisasi bisnis sangat
> ditentukan
> oleh hanya 30 % karyawannya, terutama mereka yang menduduki
> posisi
> strategic/core positions. Ilustrasinya sederhana : bagi
> sebuah warung
> makan, posisi seorang koki adalah posisi yang amat vital;
> dan bukan
> kasir atau pramusaji atau bagian purchasing. Demikian pula
> bagi
> Microsoft, posisi yang amat penting adalah barisan
> programmer, bukan
> mereka yang duduk di bagian finansial, warehouse, ataupun
> bagian
> customer service.
>
> Implikasinya jelas : untuk mereka yang menduduki posisi
> core, maka
> kita harus mati-matian mendapatkan talenta kelas dunia.
> Namun bagi
> mereka yang tidak menduduki posisi core, kita cukup
> mendapatkan
> pekerja yang standard saja, tidak perlu bagus-bagus amat.
> Alasannya
> sederhana : seorang pramusaji dengan talenta kelas dunia
> tak akan
> memberikan impak yang signifikan bagi kemajuan sebuah rumah
> makan.
> Demikian juga, seorang finance manager yang super sekalipun
> tidak akan
> memberikan dampak yang berarti bagi maju mundurnya
> Micorosft. Karena
> itulah, untuk posisi-posisi non-core ini kita cukup
> memelihara
> karyawan yang memenuhi standard kualifikasi saja, tidak
> perlu
> berambisi merekrut yang terbaik. Sebab efek diferensiasi
> dari
> posisi-posisi non core terhadap level kinerja perusahaan
> tidak banyak.
>
> Sebaliknya, untuk mereka yang menduduki posisi core atau
> strategis,
> maka kita mesti bertarung mati-matian untuk mendapatkan
> talenta super.
> Sebab dalam posisi ini, perbedaan kinerja antara level
> standar dengan
> level superior akan memberikan dampak yang sangat
> signifikan bagi
> kemajuan perusahaan. Seorang koki dengan kualifikasi
> standar mungkin
> akan membuat rumah makan kita bisa terus eksis, namun kalau
> kita bisa
> merebut koki dengan kualifikasi kelas dunia, pasti rumah
> makan kita
> akan kebanjiran pelanggan.
>
> Fakta diatas membawa kita kepada catatan penting kedua :
> perusahaan
> mesti mengalokasikan sumber daya waktu dan energi yang
> lebih besar
> (mungkin hingga 80%) untuk mengelola dan memelihara mereka
> yang duduk
> dalam posisi kunci (strategic positions); dan sisanya untuk
> mengelola
> para non-core employees. Nah, disinilah suka muncul
> masalah. Sering
> dengan alasan pemerataan, sebuah perusahaan memperlakukan
> semua
> karyawan dengan prioritas yang sama : semua mendapatkan
> porsi
> pelatihan yang sama, besaran bonus yang sama, dan kenaikan
> gaji yang sama.
>
> Gaya manajemen a la sosialisme itu kelihatannya indah,
> namun dalam
> jangka panjang tidak akan pernah mampu membawa kita menuju
> kinerja
> puncak (gaya seperti ini mungkin lebih cocok untuk negeri
> Uni Soviet
> pada tahun 70-an dulu). Sebaliknya, kita mesti
> mengalokasikan sumber
> daya yang berbeda antara karyawan core dan non-core. Untuk
> karyawan
> non core kita cukup mengalokasikan sumber daya pengembangan
> yang
> standard saja (ya, secukupnya sajalah….) Namun untuk
> core employees
> yang bersifat strategis, kita mesti mengalokasikan sumber
> daya
> habis-habisan untuk memelihara dan mengembangkan talenta
> terbaik mereka.
>
> Dengan pendekatan semacam itu, kita tidak perlu lagi repot
> atau
> terlalu ambisius untuk mengembangkan semua karyawan (dan
> ini sering
> membikin kita selalu kehabisan energi). Kita cukup
> memfokuskan energi
> terbesar kita pada karyawan yang menduduki posisi kunci dan
> bersifat
> strategis (dan acapkali jumlah karyawan golongan ini tidak
> lebih dari
> 30% jumlah total karyawan). Talenta-talenta karyawan di
> golongan
> inilah yang mesti kita hajar habis-habisan. Dengan pola
> ini, kita bisa
> lebih fokus, lebih bisa menghemat energi, dan yang paling
> penting :
> bisa meraih hasil yang jauh lebih produktif.
>
> Demikianlah, dua filosofi kunci yang mesti selalu dikenang
> tatkala
> kita hendak membangun sebuah sistem talent management yang
> unggul.
> Sebuah filosofi yang berangkat dari keyakinan bahwa : not
> everyone of
> us is equal. Sorry, kedengarannya ini agak diskriminatif,
> but this is
> a fact of life. Accept this, or you will be left behind the
> dust.
>